8.25.2008

makna cinta (refleksi esoteristik)





Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar kata cinta?
Romantika? sakit hati? pasangan hidup? atau absurditas?
Wajar jika Anda memiliki multi persepsi atau pemikiran ketika mendengar kata cinta.
Adalah sesuatu yang natural ketika Anda mengalami hal tersebut, mengingat setiap orang memiliki experience dan ekspektasi yang esoteristik. Cinta merupakan jargon multi tafsir dimana setiap orang bebas memaknai dan mendedikasikan cinta pada hal-hal yang dianggapnya patut dan menjadi bagian inheren dalam hidup dan kehidupan seseorang.

Universalitas dan eksklusifitas makna cinta merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk kita kaji. Pasalnya, cinta sebagai sebuah realitas menyajikan begitu banyak dimensi yang menimbulkan sebuah makna mendalam dan cenderung klise. Mengapa klise? Sebab memaknai cinta ibarat mencari sesuatu tanpa ada satu clue yang dapat menjadi preferensi dalam melakukan pencarin tersebut. implikasinya, hampir pemaknaan yang kita peroleh bukanlah jawaban akhir dari makna cinta tersebut, melainkan "jawaban sementara" yang secara tidak langsung mengantar kita pada makna cinta yang sesungguhnya. Meski secara aktual, kita menyadari makna cinta yang sesungguhnya sangat sulit-jika enggan mengatakan tidak mungkin- untuk kita dapatkan.

Satu hal yang pasti, meski menemukan makna cinta yang sesungguhnya merupakan hal yang sangat sulit, namun memaknai cinta secara artifisial merupakan hal yang paling logis yang dapat kita lakukan. Makna cinta artifisial bukan makna cinta secara dangkal semata, melainkan pemaknaan cinta secara massif meski tidak pada tahap ontologis, yaitu pada tahap yang paling hakiki dari makna cinta itu sendiri.
Ketika ditanya apakah makna cinta itu? Mungkin Anda akan menjawab cinta itu adalah ikatan emosional yang kuat terhadap sesuatu yang membuat kita selalu memikirkan hal tersebut hingga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan. Mungkin pula Anda akan menjawab kalau cinta itu adalah feel yang membuat kita selalu merasa memiliki, senantiasa ingin dekat, dan termotivasi untuk menjaga sesuatu agar tidak hilang dari diri kita. Bahkan, yang paling ekstrim mungkin akan menjawab bahwa cinta itu adalah entitas yang memiliki dua sisi, yaitu sisi yang menyenangkan dan sisi yang menyakitkan. Menyenangkan dalam arti bahwa dengan cinta, hidup menjadi lebih bermakna; bahwa cinta menjadi energi positif dalam kehidupan kita yang senantiasa membuat kita semangat dalam menjalani kehidupan sekaligus optimis terhadap segala sesuatu yang kita lakukan dan cita-citakan. Menyakitkan dalam arti bahwa kehadiran cinta sebagai sebuah rasa dalam diri justru membuat diri kita semakin down; kehadiran cinta justru membuat segalanya menjadi absurd dan membuat kita kehilangan identitas. Jadi, apa makna cinta itu?

Secara pribadi, saya pun cukup bingung ketika ditanya apa makna cinta yang sebenarnya. Pada dasarnya, saya berani mengatakan bahwa cinta adalah bagian dari hidup kita. Tanpa cinta, saya yakin segalanya akan terasa hampa. Selain itu, saya pun berani mengatakan bahwa cinta bukanlah realitas fisik, melainkan relaitas metafisika yang memiliki sisi abstrak yang sulit untuk kita tangkap secara inderawi. Sehingga, memaknai cinta hanyalah proses yang menghasilkan proposisi artifisial; prosesi yang hanya dapat mengungkap sisi-sisi dasar cinta itu sendiri.

Bila menilik makna cinta secara Islami, maka akan kita dapatkan suatu postulat bahwa cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah SWT. Cinta bukanlah entitas yang dapat kita lihat secara inderawi, melainkan entitas yang hanya dapat kita tangkap maknanya melalui afek (rasa) dan pendalaman secara tulus. Cinta adalah emanasi fitrah manusia terhadap sesuatu yang senantiasa hadir dalam setiap derai kehidupannya. Cinta adalah rasa yang mengantar manusia pada suatu pengalaman metafisika yang hanya dapat dimaknai secara esoteristik.

Tidak mengherankan bila ketika seseorang ditanya makna cinta yang sesungguhnya, maka pernyataan yang keluar tidak jarang dianggap absurd atau utopia belaka. Makna cinta yang didapatkan memang sangat personal dan sering tidak dapat dimengerti orang lain.

Dalam konteks lain, cinta bagi sebagian remaja dimaknai sebagai perasaan sayang dan terikat kepada orang lain, sehingga rela mengorbankan apa pun yang dimilikinya. Tidak jarang mereka berujar kalau sudah cinta, ciuman, pegangan, rabaan, bahkan ML dianggap sebagai pembuktian. Sehingga, cinta lebih dimaknai sebagai kontak fisik yang menimbulkan sensasi tertentu, tanpa kontak fisik (physics touch) belum dianggap cinta. Mungkin gambar berikut dapat menjadi ilustrasinya.


Saya tertarik dengan suatu acara sinema di sebuah stasiun tv swasta yang mengisahkan cinta antara seorang cowok kampung yang berhasil menyadarkan ceweknya yang notabene adalah cewek metropolis. Melalui suatu drama yang cukup unik, sang cowok berujar "cinta sejati adalah cinta yang membebaskan pasangannya untuk mendapatkan sendiri kebahagiaannya". Meskipun ini hanya ada dalam adegan sinema, namun makna dibalik pernyataan tersebut patut untuk kita gali, karena sugesti pernyataan tersebut saya pikir cukup kuat untuk membuat kita berpikir kembali makna cinta yang sesungguhnya. Cinta ibarat awan yang bebas bergerak kesana kemari, mencari bentuknya sendiri, serta berafiliasi dengan awan lain untuk mendapatkan chemistry-nya sendiri. Bila telah sampai pada peraduannya, maka awan tersebut akan mendapatkan wujudnya yang selama ini dicari. Mungkinkah wujudnya seperti ini?

Mungkin seperti itulah cinta. Selebihnya, tinggal anda yang memaknai sendiri apa sebenarnya cinta itu. Tidak perlu memaknai dengan cara yang tidak familiar buat anda. Maknailah apa adanya dan yakinlah bahwa cinta sejati itu akan hadir pada saat yang paling tepat; saat dimana anda sudah siap berhadapan dengan cinta sejati anda.

Tidak ada komentar: