2.26.2008

PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

Empat Pendekatan UtamaDalam Psikologi Klinis*)

1. Pendekatan psikodinamika

Asumsi psikodinamika mengenai perilaku manusia dan masalah psikologis:

a. Psikodinamika menganggap perilaku manusia dipengaruhi oleh dorongan intrapsikis (termasuk pikiran), motif, konflik, dan impuls yang tidak disadari.

b. Beragam mekanisme pertahanan ego yang adaptif dan maladaptif biasanya berhubungan dengan konflik yang tidak terselesaikan, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan, dan khayalan-khayalan yang berpengaruh terhadap perilaku normal maupun tidak normal.

c. Pengalaman dan hubungan terdahulu, seperti hubungan antara anak-anak dan orang tua mereka, memainkan peranan penting dalam perkembangan psikologis dan perilaku orang dewasa.

d. Pemahaman mengenai implikasi-implkasi ketidaksadaran ditambah kerja sama dengan mereka (membahas dan mengintegrasikan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari) membantu meningkatkan fungsi psikologis dan perilaku.

Pendekatan psikodinamika dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu perspektif tradisional Freudian (psikoanalitik), perspektif pembaharu (neo-Freudian), dan perspektif modern (relasi objek).

A. Perspektif psikoanalitik Freud

Perspektif psikoanalitik Freud sering disebut analisis klasik atau analisis Freudian klasik. Freud membangun pemahaman perilaku manusia berdasarkan pada tiga struktur mental yang biasa terjadi dalam konflik psikis. Id, terbentuk sejak kelahiran, beroperasi pada prinsip kesenangan dan mewakili semua hasrat primitif, kebutuhan, dan keinginan-keinginan. Ego, terbentuk kira-kira umur satu tahun, beroperasi berdasarkan prinsip realitas dan mewakili aspek rasional dari kepribadian yang membantu kita beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Superego, terbentuk kira-kira umur lima tahun, mewakili internalisasi norma kekeluargaan, budaya, sosial dan lainnya. Termasuk dalam superego adalah ego ideal (gambaran lengkap atau representasi mengenai siapa diri kita sebenarnya atau kita dapat menjadi siapa) dan suara hati (aturan-aturan tentang perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan perilaku baik dan buruk). Suara hati berkaitan dengan apa yang dipersepsikan sebagai ‘benar’ dan ‘salah’.

Teknik dan konsep psikodinamika dalam psikoterapi

1. Asosiasi bebas: mengungkap apapun yang ada dalam pikiran pasien tanpa menyaringnya.

2. Transference (transfer): mengubah/mengarahkan isu dan dinamika antara pasien dan figur penting dalam hidup mereka (misalnya ibu atau ayah) ke terapis.

3. Insight (pengertian/pemahaman): memahami lebih baik dampak-dampak dan impuls-impuls yang tidak disadari. Membuat hal yang tidak disadari menjadi disadari.

4. Working through: menggabungkan pengertian-pengertian baru ke dalam kehidupan sehari-hari.

5. Analisis mimpi: memahami efek yang tidak disadari dalam mimpi.

6. Countertransference (transfer balik): terapis merespon apa yang telah diungkap pasien dengan mengarahkan kebutuhan, harapan, dan dinamika mereka kepada diri pasien.

Defense mechanism merupakan strategi yang dibangun ego untuk melindungi individu dari konflik-konflik internal dan yang tidak disadari. Defense mechanism meliputi:

1. Repression (represi): menekan pikiran, perasaan, keinginan, dan konflik yang tidak menyenangkan keluar dari kesadaran.

2. Denial (penolakan): menolak perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan keinginan-keinginan yang dapat menimbulkan kecemasan.

3. Reaksi formasi: berpikir atau merasa secara sadar kebalikan atau lawan dari impuls tak sadar.

4. Projection (proyeksi): konflik-konflik, perasaan, dan dorongan-dorongan tak sadar dipersepsikan (dipindahkan) ke orang lain (orang lain yang dianggap mengalaminya, bukan dirinya).

5. Sublimation (sublimasi): mengubah atau mengganti impuls-impuls dan keinginan-keinginan yang tidak dapat diterima menjadi aktifitas yang diterima secara sosial.

6. Displacement (pemindahan): mengganti impuls-impuls yang tidak dapat diterima menjadi sumber-sumber atau objek yang tidak mengancam.

Tahap-tahap psikoseksual Freud

1. Fase oral

2. Fase anal

3. Fase phalic

4. Fase laten

5. Fase genital

Libido atau energi kehidupan didistribusikan ke berbagai bagian tubuh manusia yang membutuhkannya pada tiap fase psikoseksual tersebut. Masalah dan konflik dapat terbentuk jika terjadi terjadi fiksasi pada salah satu fase dalam psikoseksual. Sebagai contoh, seseorang mungkin mengalami fiksasi pada salah satu tahap perkembangan (seperti oral) yang disebabkan stimulus yang diterima terlalu banyak atau terlalu sedikit pada tahap itu. Fiksasi ini dapat menimbulkan masalah ketika memasuki masa dewasa seperti perilaku terlalu banyak merokok, makan, dan minum.

Freud memfokuskan pada Oedipus complex yang terjadi selama fase phalic, namun konsep ini bukanlah fitur utama dalam tulisan-tulisan yang dibuatnya. Oedipus complex adalah suatu gejala dimana anak lelaki berusaha membangun hubungan yang intim (dengan ibunya) dan tertutup serta keinginan untuk melenyapkan (ayahnya yang dianggap telah memotong kelaminnya), harapan untuk menyatu dengan ibunya dan menyingkirkan ayahnya. Freud menganggap situasi yang sama juga terjadi pada anak perempuan yang melibatkan keinginan untuk menyatu dengan ayah dan menyingkirkan ibu. Oedipus complex pada wanita dikenal dengan istilah electra complex meski pada dasarnya Freud tidak menyukai penggunaan jargon tersebut.

Tujuan dari pendekatan Freud adalah insight (mamahami faktor-faktor yang tidak disadari yang menimbulkan masalah pada perasaan, pikiran, dan perilaku) dan working through terhadap insight untuk meningkatkan fungsi sehari-hari. Proses working through melibatkan pengujian yang teliti dan mendalam terhadap harapan, dorongan, impuls, dan konflik tak sadar dalam kehidupan sehari-hari. Teknik-teknik seperti asosiasi bebas (mengungkapkan apa saja yang ada dalam pikiran pasien tanpa menyaringnya), analisis mimpi dan interpretasi, serta analisis transferensi bertujuan untuk memahami dan menangani berbagai masalah yang ada.

B. Perspektif pembaharu atau Neo-Freudian

Carl Jung merupakan orang pertama dalam lingkungan dalam Freud yang tidak setuju dengan aspek dasar dari konsep Freud dan mengembangkan revisi atas perspektif psikodinamika.

Erik Eriksson mengembangkan perspektif masa hidup yang menyatakan bahwa perkembangan psikososial terus terjadi setelah lima tahap psikoseksual kanak-kanak yang diungkapkan Freud. Alfred Adler menganggap penekanan Freud pada id dan seksualitas dan pengabaian ego merupakan kekurangan mendasar dalam pendekatan psikoanalisa. Berbeda dengan Freud, Adler menganggap kompensasi atas perasaan inferior (lemah) sangat penting dalam pembentukan kepribadian dan fungsi psikologis. Carl Jung juga menolak penekanan Freud pada aspek seksualitas. Jung menekankan pengaruh spiritual sama dengan peran dari ketaksadaran kolektif (simbol-simbol dan gambaran yang diturunkan dari nenek moyang). Harry Stack Sullivan memfokuskan teorinya pada peran hubungan interpersonal dalam kepribadian dan perkembangan psikologis. Karen Horney mengembangkan pembahasan dengan teori Freud mengenai penis dan peran perempuan.

Neo-Freudian telah mengembangkan teori Freud. Pada dasarnya, penekanan Freud pada id tidak berlaku bagi para revisionis yang mengembangkan teori-teori yang berfokus pada fungsi ego yang lebih komprehensif. Dengan demikian, teori-teori yang dibangun oleh para pembaharu dikenal sebagai pembentukan dasar bagi psikologi ego. Sebagian besar dari revisionis sepakat bahwa peran hubungan interpersonal sangat mendasar dalam perkembangan kepribadian dan fungsi psikologis. Para revisionis secara umum sepakat bahwa perkembangan psikologis berlanjut setelah tahun-tahun pertama yang diungkap oleh Freud.

C. Perspektif relasi objek

Meskipun teori psikoanalitik Freud sangat fokus pada pengalaman masa kanak-kanak, dia tidak pernah merawat seorang anak dalam psikoanalisis. Freud menyusun kesimpulan (konsep) mengenai perkembangan dan pengalaman masa kanak-kanak melalui analisis terhadap pasien-pasien dewasa yang mengungkapmasa kecil mereka. Kritik terhadap Freud sering diutarakan karena teorinya dibangun atas dasar pengalamannya merawat pasien kelas atas dan wanita dewasa di Vienna pada masa Victorian alih-alih penelitian ilmiah dan komprehensif, teori Freud merupakan asumsi (hipotesis). Melanie Klein merupakan salah satu dari penulis psikoanalitik pertama yang mefokuskan perawatan langsung pada anak-anak. Klein menganggap bahwa emosi internal anak-anak berfokus pada hubungan interpersonal, bukan kontrol impuls dan drives (pendorong).

Teoris relasi objek memandang bayi sebagai pencarian objek, bukan pencarian kesenangan. Hubungan awal dengan ibu menyajikan kerangka bagi perkembangan pengertian tentang diri sendiri. Dengan demikian, perasaan yang kuat terhadap ibu menyediakan struktur dan pendekatan bagi perkembangan fungsi psikologis dan hubungan pada masa selanjutnya. Melalui interaksi dengan ibu selama penyusuan dan aktifitas lainnya, anak menginternalisasikan beragam kualitas individu atau objek dengan siapa mereka berinteraksi. Anak kemudian memisahkan aspek-aspek yang telah dinternalisasikan menjadi ragam aspek positif (penghargaan terhadap ibu atau payudara hebat) dan negatif (menghukum ibu atau payudara jelek). Perasaan yang dirasakan anak terhadap ibu dapat menjadi ‘nyaman’ atau ‘tidak nyaman’.

Jika hubungan ibu-anak negatif dan berisi pengalaman tidak memuaskan dan frustrasi, anak akan sulit mengembangkan pikiran diri yang positif atau mencapai kepuasan dan meyakini hubungan dewasa yang intim. Teoris relasi objek cenderung memandang perilaku sebagai manifestasi pengalaman awal masa kanak-kanak dengan ibu dan figur atau sosok penting lainnya dalam kehidupan anak. Teoris relasi objek secara umum mengabaikan pengaruh hubungan ayah-anak.

2. Pendekatan Behavioral dan Kognitif-Behavioral

Psikolog behavioral berpendapat bahwa perilaku dapat dikontrol dan dimanipulasi dengan pemberian reinforsemen kepada orang-orang yang berperilaku sesuai dengan keinginan, dan punishment (hukuman) saat mereka berperilaku yang tidak sesuai dengan keinginan. Terkadang orang beranggapan bahwa psikolog yang berorientasi behavioral tidak peduli dan kurang tertarik atau toleran terhadap perilaku yang tidak dapat diamati seperti perasaan dan khayalan.

Pendekatan kognitif-behavioral secara umum lebih menggambarkan behaviorisme dari pada psikologi kognitif. Namun demikian, banyak teoris kognitif kontemporer menggunakan pendekatan kognitif dan metode pemrosesan informasi untuk memperkaya teori dan aplikasi mereka. Perspektif kognitif-behavioral mencakup di dalamnya perspektif behavioral klasik (teori B. F. Skinner) dan perspektif kognitif terkini. Psikolog yang termasuk pemimpin dalam psikologi kognitif-behavioral adalah Albert Ellis, Aaron Beck, Arnold Lazarrus, Leonard Krasner, Joseph Wolpe, B. F. Skinner, Donald Meichenbaum, Marsha Linehan, dan lainnya.

Pendekatan kognitif-behavioral secara historis berdasar pada prinsip belajar dan berakar pada akademi psikologi eksperimental dan penelitian kondisioning yang dilakukan oleh B. F. Skinner, John Watson, Clarke Hull, Edward Thorndike, William James, Ivan Pavlov, dan lainnya. Pendekatan kognitif-behavioral berfokus pada perilaku tampak (seperti perilaku yang dapat diobservasi) dan perilaku tidak tampak (seperti berpikir) yang diperoleh melalui proses belajar dan kondisioning dalam lingkungan sosial. Asumsi dasar menyediakan dasar bagi pendekatan kognitif-behavioral, termasuk fokus pada pengalaman terkini dari pada pengalaman terdahulu, penekanan pada perilaku terukur dan dapat diamati, pentingnya pengaruh lingkungan dalam perkembangan perilaku normal dan abnormal, dan penekanan pada metode penelitian empiris untuk mengembangkan strategi dan intervensi assessmen dan perawatan.

Perspektif kognitif-behavioral juga mencakup prinsip kondisioning operan, kondisioning klasik, belajar sosial, dan teori atribusi untuk membantu mengukur dan menangani berbagai kesulitan yang ada. Sebagai contoh, kondisioning operan mungkin digunakan untuk membantu seorang anak meningkatkan perilaku dan kinerjanya dalam setting kelas. Seorang anak mungkin mendapatkan penguatan seperti stiker atau pujian dari guru untuk meningkatkan perilaku di ruangan kelas yang diharapkan, misalnya lebih perhatian, tidak banyak berbincang dengan teman kelas selama proses belajar berlangsung, dan peningkatan hasil tes. Contingency management (mengganti perilaku dengan mengubah konsekuensi yang mengikuti perilaku) dan behavioral rehearsal (berlatih perilaku yang layak/pantas) mungkin diterapkan. Teknik kondisioning klasik digunakan untuk membantu seseorang menangani berbagai ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang sangat takut dengan anjing belajar menghilangkan perasaan takutnya melalui penerapan desensitisasi sistematis (teknik yang dikembangkan Wolpe), counter conditioning (kondisioning balik, mengembangkan respon adaptif pada anjing), atau dengan exposure seperti pendekatan bertahap untuk menyatu dengan anjing.

Teknik dan konsep lain dalam kognitif-behavioral

1. Counterconditioning: mengembangkan lebih banyak respon adaptif terhadap stimulus dari lingkungan sekitar. Contoh, Mary memilih melakukan aerobik ketika merasa cemas dibanding menjalani penanganan medis.

2. Behavioral contract: kesepakatan antara terapis dan pasien mengenai konsekuensi tertentu sebuah perilaku.

3. Participant modelling: mendemonstrasikan perilaku yang diinginkan terhadap pasien. Misalnya, Mary menyaksikan orang lain percaya diri untuk belajar mengendarai mobil tanpa rasa takut sebelum dia melakukan hal yang sama.

4. Tought stopping: menghentikan pikiran-pikiran yang tidak rasional dengan menyela pola pikir yang salah/negatif (misalnya berteriak ‘stop’ ke diri sendiri) dan memasukkan lebih banyak pikiran positif dan adaptif (misalnya ‘Saya dapat mengatasinya’).

A. Perspektif kondisioning klasik

Perspektif ini mempertahankan proses belajar dan perilaku melalui asosiasi stimulus terkondisi dan tidak terkondisi. Dengan demikian, dua atau lebih kejadian acak (stimulus) yang dipasangkan bersama menjadi terasosiasi. Misalnya, psikolog menggunakan perspektif kondisioning klasik dengan menguji gabungan rasa panik dan takut Mary dengan pergi ke gereja, toko grosiran, dan bank. Ketika kepanikan pertama menyerang Mary di gereja, dia mengasosiasikan gereja dengan perasaan tidak nyaman dan menakutkan yang menyebabkan dia menghindari gereja pada masa akan datang. Serangan panik di tempat lain seperti di toko grosiran, di bus, dan bank, semuanya diasosiasikan melalui kondisioning klasik, menyebabkan lebih banyak penghindaran atas berbagai tempat. Lebih lanjut, generalisasi terjadi, misalnya, meskipun Mary mengalami panik pada kantor cabang sebuah bank, dia merasa takut untuk masuk di bank manapun. Seorang terapis menggunakan pendekatan kondisioning klasik dapat melakukan penanganan terhadap kecemasan Mary dengan desensitisasi sistematis.

B. Perspektif operan

Perspektif operan menganggap bahwa semua perilaku dapat dipahami melalui analisis fungsional anteseden (kondisi yang hadir hanya sebelum perilaku terjadi) dan konsekuensi (kejadian apa yang mengikuti perilaku) dari perilaku. Konsep ini mengacu pada Analisis Fungsional Behavioral atau Behaviorisme A-P-K: Anteseden, Perilaku, Konsekuensi. Dengan demikian, perilaku dipelajari dan dibangun melalui interaksi dengan lingkungan. Jika perilaku mengalami penguatan dalam beberapa cara, perilaku tersebut akan berlanjut, sementara perilaku yang mendapatkan hukuman akan padam. Pembentukan perilaku yang diinginkan secara bertahap dicapai melalui penguatan nilai atas perilaku yang terjadi. Perilaku yang bermasalah seperti agresifitas pada anak-anak, ketakutan dan fobia, dan makan berlebih dapat diubah melalui penggantian penguatan yang dihubungkan dengan perilaku tertentu. Sebagai contoh, psikolog menggunakan perspektif operan dalam penanganan terhadap Mary atas gangguan paniknya. Mary mendapatkan penguatan atas perilaku paniknya (tidak harus bekerja, perhatian dari suami dan anggota keluarga lainnya). Intervensi dapat mencakup analisis anteseden dan konsekuensi-konsekuensi perilaku paniknya yang diikuti dengan penguatan atas perilaku yang dinginkan (misalnya pujian ketika Mary tidak mengalami simptom panik ketika menaiki sebuah bus).

C. Perspektif belajar sosial

Perspektif ini beranggapan bahwa proses belajar terjadi melalui observasi atau metode vikarius. Dengan demikian, perilaku dapat dipelajari dan dikembangkan dengan melihat perilaku orang lain alih-alih berlatih sebuah perilaku atau penguatan pribadi atas perilaku yang diberikan. Sebagai contoh, seseorang mungkin belajar untuk tidak berjalan melewati sebuah genangan yang dalam dengan melihat orang lain yang tidak nyaman ketika melewati genangan itu. Psikolog dalam menangani kasus Mary menggunakan perspektif belajar sosial untuk memahami bagaimana Mary belajar perilaku panik dari ibunya yang juga mengalami serangan panik. Ibu Mary memperoleh penguatan atas perilaku paniknya melalui perhatian, mengalihkan perhatian anggota-anggota keluarga dari masalah atau konflik lain, menghindari pekerjaan atau tugas-tugas rumah tangga. Dengan demikian, melalui pengamatan terhadap ibunya, Mary belajar bahwa perilaku panik menghasilkan keuntungan kedua, yaitu menghindari apa yang tidak ingin dilakukannya.

Perspektif belajar sosial juga menyertakan peranan harapan dalam perkembangan perilaku. Julian Rotter mengusulkan bahwa perilaku yang terbentuk merupakan produk dari apa yang diharapkan seseorang terjadi setelah membuat respon balik. Pentingnya hasil yang diharapkan juga berpengaruh pada kemungkinan dari perilaku tersebut. Sebagai contoh, seseorang akan mengeluarkan banyak uang dan mendedikasikan hidupnya selama beberapa tahun untuk memperoleh gelar sarjana karena dia mengaggap bahwa gelar sarjana akan menghasilkan karir dan kehidupan yang memuaskan. Mary menghindari toko grosiran, bank, dan gerejanya karena dia menganggap dirinya akan mengalami serangan panik ketika berada di tempat itu. Ketakutan akan rasa panik yang dialami begitu besar sehingga dia berusaha sekuat mungkin untuk menghindari tempat-tempat tersebut.

Efikasi diri merupakan keyakinan bahwa seseorang dapat sukses dalam melakukan perilaku tertentu. Kepercayaan akan kemampuan seseorang untuk sukses dalam menjalankan tugas memungkinkan kesuksesan dapat dicapai pada tugas yang diberikan.

D. Perspektif Kognitif: Anggapan, Penilaian, dan Atribusi

Perspektif kognitif meyakini bahwa anggapan, penilaian, dan atribusi mempunyai peran yang signifikan dalam perilaku dan permasalahan tingkah laku. Penilaian meliputi cara dimana kita menguji atau mengevaluasi suatu perilaku.

Atribusi mengacu pada teori mengenai penyebab dari perilaku. Kita biasanya membuat atribusi tentang tingkah laku berdasarkan beberapa faktor. Faktor-faktor ini mencakup konsep internal versus eksternal dari lokus kontrol seperti situasional versus disposisi karakteristik. Lokus kontrol internal menunjuk ke perasaan bahwa kita telah dikendalikan dan dipengaruhi sebagian besar dari pengalaman hidup kita sementara itu lokus kontrol eksternal mengacu pada perasaan bahwa kita mempunyai kendali atau pengaruh yang sangat kecil pada apa yang terjadi pada diri kita.

Faktor-faktor Situasional mengacu pada pengaruh eksternal yang mempengaruhi tingkah laku, dan faktor-faktor disposisi mengacu pada karakteristik kronis seseorang yang mempengaruhi tingkah laku. Albert Ellis (1962, 1977, 1980) dan para ahli lainnya telah memfokuskan pada anggapan yang tidak logis dan berbicara lebih tajam yang mendorong ke arah problematis perasaan dan perilaku. Ellis dan kawan-kawan menggunakan teknik seperti Rational Emotive Therapy (RET) untuk membantu individu berpikir dan proses kepercayaan pada suatu cara yang rasional. Teknik ini mencakup menggunakan logika dan melakukan penalaran. Pendekatan ini berada pada persuasi dan penalaran untuk mengubah kepercayaan tentang diri dan lainnya.

Aaron Beck (1963, 1976) mengembangkan Cognitive Therapy (CT) untuk mengatasi depresi dan gangguan lainnya. Beck mengusulkan bahwa sebagai orang berkembang, mereka merumuskan aturan tentang bagaimana dunia bekerja yang cenderung sederhana, kaku, dan sering berdasarkan pada asumsi yang salah. Beck melatih orang untuk memonitor dan mengubah pemikiran mereka.

Berbagai variasi dari tingkah laku kognitif psikoterapi telah muncul bertahun-tahun yang lalu. Sebagai contoh, Marsha Linehan mengembangkan Dialectical Behavior Therapy (DBT) pada orang yang mengalami gangguan (Linehan, 1993). DBT menggunakan strategi cognitive-behavioral dengan psikodinamika, client-centered, sistem keluarga, dan perspektif intervensi krisis. DBT memfokuskan pada penerimaan diri dan pengalaman-pengalaman dalam upaya ke arah perubahan tingkah laku. Perubahan ini dicari melalui tiga tahap, yaitu pretreatment, eksposur dan proses emosional dari kejadian masa lalu, dan tahap sintesa pengintegrasian kemajuan dari langkah-langkah sebelumnya untuk mencapai tujuan.

3. Pendekatan Humanistik

Teori humanistik mengasumsikan pendekatan-pendekatan phenomenological yang menekankan setiap individu mempersepsikan pengalaman dunianya. Perspektif humanistik cenderung melihat orang aktif, berpikir, kreatif, dan pertumbuhan orientatif. Membantu orang melalui pemahaman perhatian, perasaan, dan perilaku melalui mata pasien. Para ahli Humanistik cenderung untuk mengasumsikan orang itu pada dasarnya baik intensinya dan bahwa mereka secara alami bekerja keras ke arah pertumbuhan, cinta, kreativitas, dan aktualisasi diri. Aktualisasi diri membantu ke arah kemajuan dalam hidup, ke arah pertumbuhan yang lebih baik, damai, dan penerimaan lebih tajam dan hal lainnya. Bukannya memusatkan pada masa lalu, ahli teori humanistik fokus terhadap “disini dan sekarang” atau saat ini.

A. Perspektif Client Centered

Carl Rogers menggunakan teknik tidak langsung seperti mendengarkan secara aktif, empati, congruence, dan unconditional positive regard mengerti dan membantu orang lain. Unconditional positive regard mengacu pada anggapan dimana tak seorangpun itu harus secara negatif dihakimi atau dievaluasi dalam pengalaman terapi atau di tempat lain. Unconditional positive regard mungkin menjadi satu tantangan untuk para profesional bekerja dengan individu yang mempunyai sikap atau perilaku yang menyerang (penyalahgunaan seksual anak-anak, pencurian, komentar pembenci suku bangsa lain). Unconditional positive regard tidak berarti bahwa perilaku atau sikap ini diterima dengan baik. Congruence, atau keaslian, mengacu pada harmoni antara satu perasaan dan tindakan. Dengan begitu, para ahli harus bekerja keras untuk jujur dalam hubungannya dengan orang lain. Keaslian juga menyiratkan bahwa para ahli tidak akan mencoba untuk menyembunyikan perasaannya dari orang lain, namun demikian masih menampakkan sikap profesionalisme. Pendekatan client centered mengatur orang mempunyai satu bawaan yang mengarah ke pertumbuhan.

B. Perspektif Abraham Maslow

Abraham Maslow (Maslow, 1954, 1971) salah satu ahli pendekatan Humanistik. Dia menekankan pentingnya aktualisasi diri yang mengacu pada impuls dan keinginan untuk mengembangkan penuh potensial. Dia memfokuskan pada aktualisasi diri untuk mencapai hal yang diinginkan. Dia menganggap manusia memiliki hirarki kebutuhan mulai dari kebutuhan biologis dasar yaitu makanan, minum, dan kehangatan. Setelah kebutuhan ini tercapai, seseorang tersebut akan melangkah pada kebutuhan tingkat lebih tinggi seperti keselamatan dan keamanan. Kebutuhan level yang sering dijumpai, yang kemudian memfokuskan pada kebutuhan cuma-cuma, kesertaan, dan penerimaan. Akhirnya, ada di puncak hirarki adalah aktualisasi diri. Maslow mempercayai seseorang yang mengalami perwujudan diri ditandai oleh satu penerimaan terhadap diri mereka dan hal lainnya, persepsi efisien dari kenyataan, minat sosial, daya kreasi, kebatinan atau “puncak” pengalaman, demikian pula kualitas lain (Maslow, 1971). Maslow beranggapan bahwa kurang dari 1% populasi pernah mencapai perwujudan diri.

Oleh karena itu, permasalahan dalam perasaan, pemikiran, perilaku, dan hubungan muncul karena banyaknya orang yang kekurangan-termotivasi dalam berusaha untuk memenuhi keperluannya. Maslow menunjuk momen itu ketika perwujudan diri adalah benar-benar dicapai sebagai puncak pengalaman. Walaupun teori Maslow

telah menerima banyak perhatian dan penerimaan, dia menawarkan sedikit kecil dalam kaitan dengan spesifik teknik untuk menggunakan pengkajian dan penanganan psikologis.

C. Perspektif gestalt

Asumsi dari pendekatan gestaltmeliputi pikiran dimana permasalahan terjadi sehubungan dengan ketidak-mampuan kita untuk sungguh-sungguh sadar akan perasaan kita saat ini, pemikiran, dan perilaku yang banyak sekali memfokuskan pada masa lalu serta masa depan. Pendekatan Gestalt memfokuskan pada kesadaran akan saat ini juga atau pengalaman saat ini.

Pendekatan Gestalt membantu masyarakat hidup di momen saat ini dengan cara sering meminta orang itu bekerja ke arah satu kesadaran pemikiran dan perasaan saat ini. Pengambilan tanggung jawab personal untuk satu perasaan, pemikiran, perilaku, dan pentingnya untuk itu menggunakan perspektif gestalt. Teknik meliputi membuat percaya bahwa satu orang penting seperti sebagai sebuah pasangan, boss, atau ibu adalah di ruangan dengan anda duduk dalam satu kursi kosong. Bertemu dengan orang seolah-olah mereka membantu seseorang menjadi lebih baik berhubungan dengan perasaan dan perilaku. Sebagai contoh, Mary mungkin diminta untuk menganggap diri itu adalah ibunya di ruang bersama dengan nya. Ahli terapi gestalt mungkin mendorong Mary untuk berbicara dengan ibu nya seolah-olah dia sedang duduk dalam satu kursi kosong di kantor. Mary akan diminta untuk segera berbicara dengan ibu nya di ruang tersebut. Satu contoh dari satu pendekatan yang lebih kepada model teori humanistik yang meliputi penentuan nasib sendiri (Deci & Ryan, 2002;Sheldon et al., 2003). Pendekatan ini memfokuskan pada tiga kebutuhan psikologis fundamental manusia bahwa meliputi kemampuan/ wewenang, otonomi,dan pergaulan. Pemeliharaan tiga kebutuhan ini cenderung lebih psikologis yang menggerakan seseorang ke arah aktualisasi diri (Sheldon et al., 2003). Teori ini digunakan untuk menyediakan dukungan otonomi dengan klien. Ini meyakinkan bahwa ahli terapi secara penuh menghormati dalam menangani perspektif nya dan mempertimbangkan kebebasan maksimumnya. Ahli terapi didukung untuk melihat dunia melalui mata atau worldview klien dan memastikan pilihan mereka dihormati sedemikian rupa sehingga ahli terapi tidak sedang menceritakan kepada mereka apa yang harus dikerjakan dan bagaimana untuk melakukannya. Walaupun itu tidak satupun pendekatan direktif, dalam mendorong ahli terapi untuk memberikan klien pilihan dalam memilih keinginan mereka untuk pindah ke arah kebebasan mereka untuk memilih.

D. Family Systems Approach

Sistem keluarga pendekatan muncul untuk mengatasi keterbatasan dari perspektif lain dengan mengidentifikasikan pasien individual. Pendekatan sistem keluarga muncul dari penelitian dan penanganan yang menghubungkan penyelesaian permasalahan yang berhubungan dengan komunikasi antar pribadi di antara pasien yang berkenaan dengan penyakit skizofrenia dan antara anggota keluarga. pendekatan sistem keluarga mulai dengan Bateson mengelompokkan di Palo Alto, Kalifornia, selama 1950-an. Pendekatan sistem keluarga pada umumnya meliputi peningkatkan komunikasi diantara anggota keluarga dan satu penekanan terhadap permasalahan dari satupun anggota sesuai dari perhatian pada sistem keluarga secara keseluruhan. Para profesional sistem Keluarga mungkin juga memperluas anggota keluarga atau figur signifikan yang lain dalam hidup dari keluarga seperti tetangga, teman, dan guru dalam pekerjaan mereka. Perspektif sistem keluarga memelihara satu pandangan sistemik dari permasalahan dan hubungan.

Perubahan apapun dalam perilaku atau berfungsi dari satupun anggota sistem keluarga mungkin untuk mempengaruhi anggota lain. Oleh karena itu, sekalipun meningkat psikologis berfungsi dan perilaku dicapai dalam anggota individual, dimana harus melakukan penyesuaian pada perubahan baru dalam keluarga. Secara bertentangan, peningkatan di antara beberapa anggota keluarga dapat mendorong ke arah permasalahan di antara anggota keluarga lain. Untuk contoh, jika Mary yang lebih tidak menakutkan dan lebih independen, dia tidak dapat lagi memerlukan suaminya untuk mengendalikan nya. Suaminya kemudian tidak memiliki peran yang aktif atau kuat dalam hubungan dengan isterinya. Perubahan ini mungkin menghasilkan perselisihan dalam perkawinan nya.

E. Pendekatan Komunikasi

Pendekatan komunikasi ini telah dikembangkan oleh Virginia Satir (1967) dan kolega di Mental Research Institut (MRI) di Palo Alto, Kalifornia. Tabel 5.5 Contoh-contoh dari Family Systems Concepts dan Techniques Reframing Altering salah satu cara memahami serta menerjemahkan satu perilaku yang diberikan. Sebagai contoh, Mary panik mungkin saja reframed sebagai satu usaha untuk melibatkan suaminya dalam hidup nya. Pendekatan meyakinkan permasalahan dalam efektif komunikasi berperan untuk keluarga dalam menghadapi permasalahan dan kelainan fungsi tubuh. Tak dikatakan dan tidak beralasan ekspektasi, mengatur atau memerintah, dan asumsi tentang bagaimana anggota keluarga harus menghubungkan satu sama lain dan hidup dalam konflik dan permasalahan dalam keluarga yang menguraikan beberapa gaya komunikasi dalam keluarga, yang meliputi pendamaian, menyalahkan, superreasonable, tidak relevan. Didalam keluarga masalah ayah mungkin saja superreasonable, memelihara satu gaya dan pemeliharaan rasional perasaannya kepada dirinya.

F. Pendekatan Struktural

Pendekatan ini telah dikembangkan oleh Salvador Minuchin(1974) dan memfokuskan serta mengubah atau merestrukturisasi pola dari hubungan antara anggota keluarga. Perspektif struktural memfokuskan pada tingkat adaptif dari pembedaan, enmeshment, dan kelepasan dari ikatan di antara anggota keluarga (Minuchin, 1974; Minuchin & Fishman, 1981). Struktural perspektif menekankan lebih fungsional, diseimbangkan, dan ikatan keluarga hirarkis. Ahli terapi dapat benar-benar menyusun kembali tempat dalam sesi terapi dalam rangka untuk bergabung dalam keluarga dan untuk mengubah struktur dari keluarga dan interaksi.

G. Pendekatan Milan

Dalam pendekatan Milan para ahli dipandang sebagai satu integralbagian dari sistem keluarga atau unit (Boscolo, Cecchin, Hoffman, & Penn, 1987). Pendekatan Milan benar-benar menghargai netralitas demikian pula penerimaan dan rasa hormat untuk sistem keluarga. Pendekatan Milan menggunakan hipotesa baik sebagai positif, arti tambahan logis (Selvini Palazzoli, Boscolo, Cecchin, & Prata, 1980) yang membantu dalam dinamika keluarga serta pemahaman lebih baik. Hipotesa membantu memperbaiki dan memahami fungsi dan dinamika keluarga, sedangkan positif, arti tambahan logis reframes perilaku dari keluarga lebih positif dan istilah yang diterimanya. Sekolah Milan juga mendorong penggunaan satu pendekatan tim. Tim penanganan mendiskusikan sesi sebagaimana itu terjadi dan menawarkan usul pada ahli terapi bekerja dengan keluarga melalui satu telepon dalam ruang penanganan. Mengikuti sesi tersebut, keluarga diundang untuk mengamati tim penanganan sebagaimana mereka mendiskusikan

sesi dengan memperlakukan ahli terapi.

H. Pendekatan strategis

Pendekatan strategis dikembangkan oleh Jay Haley (1973, 1987) dan kawan-lkawan seperti Milton Erikson (1980) untuk membantu kesepakatan para ahli lebih efektif dengan resistansi dalam pekerjaan mereka. pendekatan menggunakan keterlibatan yang sangat aktif dan langsung oleh clinician. Perspektif strategis mempertahankan usaha apapun untuk mengubah suatu anggota atau sekumpulan anggota di dalam sistem keluarga, sistem akan mengalami resistansi dan sabotase (sadar atau tak sadar). Oleh karena itu,para ahli harus menemukan cara untuk melawan resistansi ini dengan cara mengarahkan dan mengubah perilaku keluarga. Salah satu contoh yang paling umum dan terkenal dari satu intervensi strategis mencakup penggunaan teknik paradoxical. Pendekatan paradoxal biasanya mengarah kepada rakyat biasa sebagai “reverse psychology”.

Teknik paradoxal mencakup penentuan gejala dari kekhawatiran dalam yang berlebihan sehingga tampil untuk membantah tujuan dari intervensi. Teknik Lain digunakan oleh strategis oleh para ahli klinik strategik adalah reframing. Reframing mencakup interpretasi ulang dari suatu perilaku atau isu dalam hal yang berbeda. Oleh karena itu, perilaku dipertimbangkan menjadi negatif oleh keluarga dan mungkin saja dapat berubah menjadi positif.

I. Pendekatan naratif

Pendekatan naratif (M. Putih, 1986; M. Putih & Epston,1990) berasumsi bahwa anggota keluarga itu memiliki konsep permasalahan dan perhatian mereka melalui satu rangkaian cerita tentang hidup mereka dan berbagai sistem anggota keluarga. Menggunakan teknik seperti eksternalisasi dan tanya jawab yang relatif, para ahli membantu anggota keluarga dalam menghubungkan jalan cerita mereka dalam suatu cara yang objektif.

*)diterjemahkan dari essai Marcia Wood, Ph. D.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mohon dicantumkan sumber referensinya, terimakasih

muhammad sa'duddin mengatakan...

Terserah yg unggah dong